12 March 2009

Musik Mars PSSSI&B

Mohon maaf lagu ini bukan lagu ciptaan saya, melainkan ciptaan salah satu dari keturunan marga simanjuntak.

Saya mempublikasikan lagu ini pertanda lagu ini telah saya arransemen tanpa mengubah keasliannya.

Mengenai keaslian lagu belum dapat saya pastikan karena lagu ini saya dapat dari salah satu keturunan marga simanjuntak yang berdomisili di Tarutung (photonya dapat dklik di http://maradagv.multiply.com/photos/photo/7/4).

Lagu ini diciptakan oleh Op. Donata Gr. Konradt Sutan Habonaran Simanjuntak (S.14)

Lagu ini dilengkapi dengan musik yang saya arransemen sendiiri, yakni file musik yang berformat midi, yang dapat menjadi nada rintong ke HP (polyphonic), bahkan bisa dibaca oleh media pembaca musik lainnya, dan juga bisa dibaca oleh berbagai jenis merk Keyboard musik yang memiliki program midi.

Anda dapat mendownloadnya secara gratis :
Download : Partitur (save as)
Download : Musik Midi

Oleh :
B. Marada Hutagalung

09 March 2009

Lagu / Koor : Jalo Ma (Revisi 2009)

Jalo Ma (Revisi 2009)

Lagu/koor ini adalah Lagu/koor terbaik dari antara semua lagu/koor yang telah diciptakan oleh Marada Hutagalung. Untuk kali kedua kalinya, lagu/koor Jalo Ma direvisi kembali agar dapat dinyanyikan dengan baik dan mudah.

Lebih lengkapnya dapat mendownload file dalam zip (partitur dan midinya) :
klik DOWNLOAD!
atau 


Cara menyanyikan lagu atau  ini, mari kita lihat di bawah ini :
Musik (Intro)
---
Ayat 1:
- - - dinyanyikan oleh Wanita (S=Sopran, A=Alto)
Jalo Ma sombaku o Tuhan
Marhite Ende-endeki
Bege Ma tangiangkon Tuhan
Sian ias ni rohangku o Tuhan
---
Ayat 2:
- - - dinyanyikan oleh Pria (T=Tenor, B=Bass)
Jalo Ma Peleankon Tuhan
I ma daging dohot tondiki
Bege ma holsoankon Tuhan
Na mambaen sega pingkirankon
---
Reff. I.:
- - - dinyanyikan Wanita dan Pria (S=Sopran, A=Alto, T=Tenor, B=Bass)
Sesa ma dosangku o Tuhan
Asa unang holsoan di au
Tung tangkas huboto do Tuhan
Paluaon-Mu do au sian i
---
Reff. II.:
- - - dinyanyikan Wanita (S=Sopran, A=Alto)
O Tuhan unang pasombu
Au tu pandelean
Tangi sai tangi ma au
- - - dinyanyikan oleh Pria (T=Tenor, B=Bass)
Holan Ho, Kristus do Rajangki
- - - dinyanyikan Wanita (S=Sopran, A=Alto)
Jalo Ma sombakon
- - - dinyanyikan oleh Pria (T=Tenor, B=Bass)
Jalo Ma peleankon
- - - dinyanyikan Wanita dan Pria (S=Sopran, A=Alto, T=Tenor, B=Bass)
Haleluya...
Kembali ke Ref. I – sampai :
Jalo Ma.........

Kabar Gembira, sudah ada nada dering untuk HP atau musik model polyphonic dengan format Midi, yang bisa juga dicopi paste ke disket atau flashDisk lalu dimainkan melalui Keyboard merk apa saja yang memiliki program pembaca Midi, semisal : Yamaha PSR 350 ke atas, KN Technis 7500, dll.

B. Marada Hutagalung

http://maradagv.wordpress.com
http://maradahtgalung.blogspot.com

06 March 2009

Klasifikasi Bahasa Batak dan Unduh Fonts-nya

Klasifikasi Bahasa Batak dan Unduh Fonts-nya

Sering kali orang berpendapat bahwa suku bangsa Batak itu satu, dan memang benar. Namun juga berpendapat bahwa bahasa Batak hanya satu, padahal tidak. Memang pada awalnya bahasa Batak hanya satu, namun akibat terjadinya perbauran suku dan budaya maka lahirlah beberapa sub suku atau sub etnis yang juga melahirkan bahasa dan budaya yang agak berbeda satu sama lain.

Terkadang orang-orang batak salah mengartikan yang mana suku bangsa dan yang mana sub suku. Semisal, apa bila ada orang ditanya, Kamu suku apa? Kemungkinan kalau orang Batak Toba menjawab adalah suku Batak. Dan bila ditanya orang Batak lainya, mungkin jawabannya adalah suku Karo, Simalungun, atau Mandailing. Jawaban yang kedua adalah salah.

Mohon maaf kepada orang Batak lainnya, tulisan ini bukan untuk menyudutkan saudara/i sekalian yang beda dengan Batak Toba. Memang kebanyakan orang Batak Toba lebih sering menyatakan dirinya suku Batak dari pada suku Toba. Pemahaman seperti itu adalah benar. Jika saudara/i ditanya suku apa, maka jawablah suku Batak. Dan jika ditanya Suku Batak atau sub suku apa barulah dijawab Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, dan Batak Mandailing-Angkola.

Jenis Bahasa Batak itu ada 5. Bahasa Batak tersebut itu masih serumpun dan masih banyak kemiripan apalagi dalam bentuk tulisan aksara Batak. Bahasa Batak masuk dalam bagian rumpun bahasa Austronesia Melayu Polinesia Barat.

Berikut mari kita lihat ke-5nya, yakni :

1. Bahasa Batak Toba

Bahasa Batak Toba ini meliputi daerah kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Samosir. Bahasa Batak Toba lebih banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia secara khusus di daerah-daerah Batak seperti Tanah Karo, Simalungun, Dairi, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan sebagainya. Kenapa demikian? karena orang Batak Toba adalah orang suka berdiaspora (merantau dan menyebar ke mana-mana) disertai dengan bahasa Batak Tobanya sehingga bahasanya pun dapat ditemukan di mana saja. Jadi wajar saja jika ada orang Batak Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing-Angkola tahu bahasa Batak Toba dari pada orang Batak Toba tahu bahasa Batak lainnya.

Bahasa Batak Toba masih terdiri 4 dialek, yakni :
  1. Dialek Toba Silindung : meliputi Kota / Kecamatan Tarutung, Kecamatan Sipoholon, Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Garoga, Kecamatan Pangaribuan, Kecamatan Pahae Julu, Kecamatan Adiankoting, Kecamatan Pahae Jae (sebahagian dipengaruhi Mandailing-Angkola), Kecamatan Pahae Purbatua (sebahagian dipengaruhi Mandailing-Angkola), dan Kecamatan Simangumban (sebahagian dipengaruhi Mandailing-Angkola);
  2. Dialek Toba Humbang : meliputi Kecamatan Siborongborong, Kecamatan Pagaran, Kecamatan Muara, Kabupaten Humbang Hasundutan (kecuali Kecamatan Parlilitan karena pengaruh terirtorial daerah kabupaten Dairi);
  3. Dialek Toba Pesisir Pantai Danau Toba : meliputi keseluruhan Kabupaten Toba Samosir;
  4. Dialek Toba Pulau Samosir : hanya Kabupaten Samosir saja.
Sekilas info, perlu kita ketahui Dialek dan Logat itu berbeda. Jadi jangan salah paham. Dialek adalah bagian dari logat, yakni dialek adalah gaya bahasa, cara pengucapan, dan artinya sedikit agak berbeda dengan yang lainnya. Seperti Toba Silindung dengan Toba Humbang. Sedangkan logat adalah gaya bicara yang dipengaruhi oleh gaya bahasa ibu. Contoh : orang Batak bila berbicara dalam bahasa Indonesia tentu gaya bahasanya keras dan seolah-olah berkata-kata kasar; bila orang Jawa berbicara dalam bahasa Indonesia tentu kemungkinan gaya bicaranya akan seolah-olah lembut. Itulah sebabnya ada istilah logat Jawa, logat Batak, dll.


2. Bahasa Batak Simalungun

Bahasa (sahap) Batak Simalungun ini meliputi sebagian daerah kabupaten Simalungun (sebagian lagi dipengaruhi oleh Bahasa Jawa dan Bahasa Batak Toba), sebagian Kotamadya Pematang Siantar (sebagian lagi dipengaruhi oleh Bahasa Jawa dan Bahasa Batak Toba, juga bahasa Indonesia). Aksaranya disebut aksara Surat Sisapuluhsiah.

Bahasa Simalungun terdiri dari 2 dialek, yakni :
  1. Dialek Simalungun Atas : meliputi sebagian Kotamadya P. Siantar, sebagian Kecamatan Serbelawan;
  2. Dialek imalungun Bawah : meliputi kecamatan Haranggaol, Kecamatan Sondi Raya, Kecamatan Silimakuta, dan lain-lain.
Sedikit arti istilah Dialek Simalungun Atas dan Bawah; Dialek Simalungun Atas adalah Dialek yang sudah dipengaruhi oleh budaya lain dan mengarah kepada bahasa Simalungun Modern, sedangkan Dialek Simalungun Bawah dialek yang masih bertahan pada sifat keasliannya.


3. Bahasa Batak Simalungun

Bahasa Karo meliputi Kabupaten Tanah Karo, dua Kecamatan di Kabupaten Dairi (Taneh Pinem dan Tiga Lingga), 2 Kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara (Lau Sigala-gala dan Simpang Simadam), beberapa Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, beberapa Kecamatan di Kabupaten Langkat, dan di Padang Bulan (Kota Medan).

Mengenai Dialek ada 6 macam, namun belum dapat disebutkan karena kurang perbendaharaan pustaka (Mohon Maaf). Bahasa Karo kebanyakan dipengaruhi oleh bahasa melayu dan aceh.


4. Bahasa Batak PakpakBahasa Pakpak meliputi Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat. Bahasa Pakpak ini sebagian dipengaruhi oleh Bahasa Aceh dan Melayu. Mengenai Dialek juga belum dapat dijelaskan oleh penulis.
4. Bahasa Batak Mandailing-Angkola

Bahasa Batak Mandailing-Angkola meliputi daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, Kotamadya Padang Sidempuan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), beberapa Kecamatan di Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Mengenai Dialek juga belum dapat dijelaskan oleh penulis.
Secara budaya sebenarnya sebutan bahasa Angkola Mandailing itu tidak ada, sebab bila kita bertanya kepada orang Mandailing mengenai bahasa dipakainya, tentu sudah pasti orang tersebut akan menjawab bahwa bahasa yang dipakai ialah bahasa Mandailing. Dan tidak akan mengatakan bahasa Angkola-Mandailing. Demikian sebaliknya bila kita bertanya kepada orang Angkola mengenai bahasa dipakainya, sudah tentu akan dijawab bahasa Angkola. Berarti dengan demikian dapat dibuktikan bahwa bahasa Angkola-Mandailing tidak ada. Sebenarnya itu hanya membedakan dialek saja. Bahasa Batak Mandailing-Angkola sudah dipengaruhi bahasa Minang dan Melayu Pesisir.


Sedikit sebutan Horas dalam Bahasa Batak

Sebutan Horas sudah menjadi ucapan umum untuk memberi sambutan atau sapaan bagi orang Batak. Namun, sebenarnya bila ditelusuri dengan teliti sebanarnya kata Horas hanya dipakai oleh orang Toba, Simalungun dan Mandailing-Angkola (dan memang ada banyak kemiripan dalam bahasa masing-masing). Sedangkan sebutan Horas dalam bahasa Batak Pakpak bukanlah Horas, melainkan Njuah-juah. Sedangkan dalam bahasa Batak Karo disebut Mejuah-juah.

Sedikti bahasa kata Maaf dalam Bahasa Batak

Sering kali orang Batak khusus Toba, untuk mengucapkan kata 'maaf' selalu menggunakan kata 'sori'. Kata tersebut sebenarnya bukanlah bahasa Batak Toba, dan itu tidak ada dalam kamus bahasa Batak Toba sekarang, tapi kemungkinan ada sebutan lain. Seperti : unang be ingot salahhu atau sai pamago ma sian roham angka na roa na huulahon. Kata sori sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yakni 'Sorry, tapi kelihatannya cocok kalau diucapkan, sori ma jo (maaflah dulu). Namun kalau digunakan dalam kalimat lengkap, seperti Maafkanlah aku, sorihon ma ahu, wah...sangat rancu. Kemungkinan dulu kata maaf ada dalam bahasa Batak Toba, namun ada faktor tertentu yang menghilangkan kata tersebut.
Sama halnya juga denga bahasa Batak Simalungun dan Mandailing-Angkola. Dan Batak Karo dan Pakpak juga lebih condong menggunakan kata maaf dalam bahasanya yakni maaf juga, yang sebenarnya adalah bahasa Indonesia.


Urutan Bahasa Batak pada sub suku Batak
Maksudnya adalah untuk menelusuri kemiripan Bahasa masing-masing :
Karo -- Pakpak -- Simalungun -- Toba -- Mandailing-Angkola


Unduh Fonts Aksara Batak

Dalam blog ini saya melampirkan dua buah file fonts Aksara Batak yang dikompres dalam format *.Zip, yakni Font Batak.zip (74,3 kb). Masing-masing terdiri dari file dalam bentuk format *.TTF, yakni :
KARON___.TTF
(Karo)
MANDN___.TTF (Mandailing-Angkola)
PAKPN___.TTF (Pakpak)
SIMAN___.TTF (Simalungun)
TOBA____.TTF (Toba)
TOBAN___.TTF (Toba)
VARIN___.TTF (Toba-Tambahan)

Klik Unduh/Download : Font Batak.zip

Caranya memakainya : ekstrak dulu filenya lalu copy-paste ke C:\WINDOWS\Fonts\ dan untuk mengetahuinya buka aja microsoft office, khusus untuk yang menggunakan Windows Vista dan Windows 7, klik (kiri) salah satu font lalau pilih tombol install.
Selamat Menggunakan.


Sebagai catatan :
Marilah kita jaga bahasa daerah kita sebab itu akan menjaga budaya kita, dan jika kita tidak bahasa daerah kita maka budaya kita akan hilang secara lambat laun.



SEKIAN DAN TERIMA KASIH


B. Marada Hutagalung
http://maradagv.wordpress.com

05 March 2009

Aku Bukan Tukang Pos

Aku Bukan Tukang Pos

Mengantar surat, paket, dsb sampai ke tujuan adalah sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Tukang Pos (yang sering disebut Pak Pos). Pekerjaan itu sudah menjadi profesi pak pos, dan itu adalah tugas mulia. Padahal perkembangan teknologi sudah canggih namun mengantar surat secara khusus tetap dilakukan oleh pak pos, untuk menunjukkan sahnya isi surat tersebut.

Sedangkan aku sendiri bukanlah seroang tukang pos, tapi seorang pengantar surat yang harus aku emban selagi aku masih berada di sekretariat (bagian umum) di salah satu instansi pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara.

Hal saya takuti adalah mengantar surat di saat hujan, apalagi surat tersebut bersifat penting dan mendesak. Ditambah lagi aku harus memohon dengan memelas agar aku bisa memakai sepeda motor untuk mengantar surat. Namun apa hendak dikata, aku bukanlah staf yang memiliki pangkat yang cukup dan berjabatan cukup. Hanya staf yang bergolongan rendah. Terkadang aku juga harus memelas agar diberikan uang untuk membeli bahan bakar supaya sepeda motor tersebut dapat saya pakai untuk mengantar surat.

Kebanyakan staf yang satu bagian dengan aku tidak mau bersedia mengantar surat. Apa boleh buat, aku maklum saja karena mereka adalah wanita yang harus dimengerti (tidak ada sangkut paut soal isi hati). Ayahku juga masih satu bagian dari aku, tapi aku tidak tega untuk mengajaknya mengantar surat.

Sering teman-teman berpendapat bahwa di kantorku itu banyak staf yang pintar, dan bijak, serta berpenghasilan tinggi. Namun itu hanya opini saja tanpa melihat langsung ke dalam. Bahkan ada berpendapat bahwa aku punya deking di kantor yakni Ayahku sendiri. Padahal tidak, dia berpangkat rendah seperti aku. Itulah sebabnya aku tidak mau bersama ayahku mengantar surat. Bukan malu atau sombong, tapi aku segan dan tidak tega karena dia adalah ayahku.

Aku memang bukan tukang pos, tapi sudah menjadi tugasku mengantar surat sekalipun hujan datang. Walau aku sudah mengatar surat dan basah kuyup tetapi saya juga kembali kerja di kantor untuk mengkonsep surat, dan mengetiknya. Selain aku, ada juga pria yang setara dengan aku pangkatnya, namun dia sangat keras kepala dan seolah-olah merasa dirinya lebih tinggi pangkatnya dari aku sehingga tidak mau mengantar surat. Maklum saja, selama hidupnya dia hidup di masa kejayaan orang tuanya sehingga tingkah lakunya seperti pejabat.

Barusan tadi pagi sampai sore saya mengantar surat ke berbagai instansi di bawah naungan pemerintah kabupaten Tapanuli Utara. Aku sempat beristirahat karena hujan turun deras tiba-tiba. Akhirnya aku tunggu sampai berhenti, namun tak kunjung berhenti. Jantungku berdetak tidak beraturan karena masih banyak lagi surat penting yang harus di antar. Padahal kantor-kantor isntansi tersebut tidak berjarak dekat. Tidak semua berada di ibukota. Mana lagi aku harus mengantar surat untuk camat ke kantornya dan melalui loket bus ke kecamatan tertentu. Sekarang badanku sudah mulai tampak gejala panas. Memang benar kita harus menjaga kesehatan agar bisa bekerja semaksimal mungkin, tapi apa daya. Aku harus melakukannya karena itu sudah menjadi tugasku.

Teman-temanku yang bukan sekantor berpikiran bahwa aku itu adalah orang berpendidikan yang memiliki gelar kesarjanaan (Strata-1), dan memang benar. Namun, di kantor aku tidak dianggap sebagai srajana, melainkan setara dengan tamatan SLTA sederajat. Dan memang benar karena aku melamar dengan menggunakan ijazah tamatan SLTA sederajat. Tapi walau demikian aku bekerja di kantor tidak menggunakan ilmu setara SLTA, melainkan menggunakan kemampuan setara S-1. Andai aku bukan sarjana, kemungkinan besar aku akan kesulitan untuk mengkonsep surat serta mengetiknya. Apa hendak dikata, aku tetap juga harus mengantar surat.

Aku kuliah tidak sambil kerja, tapi reguler aku duduk di bangku kuliah, ditambah lagi aku juga mengambil Akta-IV. Tapi keliatannya sia-sia karena tidak berlaku di kantor, karena ilmu itu harus kugunakan di Gereja atau di sekolah. Apa boleh buat, tidak ada gunanya bagiku untuk mengeluh. Aku dituntut untuk menikmatinya, dan itulah mungkin waktunya bagiku sekarang. Soal di masa depan, biarlah Tuhan yang menentukan, yang penting berpengharapan meski tiada satu pun orang yang mengerti.

Mengantar surat, sudah menjadi tugasku sesuai dengan pangkat dan jabatanku meski aku bukan tukang pos. Biarlah itu menjadi bagianku sekarang sampai masa yang ditentukan oleh Tuhan bagiku.

B. Marada Hutagalung

http://maradagv.wordpress.com


Pengunjung

Flag Counter