12 April 2008

Bahan Ajaran PAK-3 : “PACARAN MENURUT IMAN KRISTIANI”

PACARAN MENURUT IMAN KRISTIANI
Pacaran merupakan masa perkenalan antara dua pribadi secara khusus yang mengarah pada pernikahan. Disebut secara khusus oleh karena berpacaran bukan hanya sekedar perkenalan. Ada unsur-unsur tertentu yang seharusnya diak ada dalam masa perkenalan secara umumnya yang harus ada pada masa berpacaran. Dua pribadi yang berlawanan jenis kelamin itu mengambil sikap untuk mengkhususkan hubungan antara mereka berdua. Meningkatkan hubungan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu pernikahan. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita melihat dan mengetahui apa yang dimaksud dengan berpacaran.
PENGERTIAN BERPACARAN
1. Pengertian Secara Umum
Dalam Kamus Besar Bahsa Indonesia, kata berpacaran berasal dari kata dasar pacar (teman lawan jenis yang biasanya menjadi tunangan, kekasih). Berpacaran berarti bercintaan, berkasih-kasihan. Berpacaran merupakan hubungan dua orang yang berbeda jenis kelamin berdasarkan cinta. Berpacaran memiliki ciri khas yaitu perasaan yang eksklusif (ada perasaan : “Dia khusus bagi saya dan saya khusus bagi dia). Perhatian terhadap orang lain tidak sama dengan perhatian terhadap pacar.
Menurut Hardjana, “Pacaran adalah usaha untuk memadukan dua pribadi yang berbeda yang bertujuan agar pasangan pacara mendapatkan kesempatan untuk saling mengenal lebih mendalam dan saling membina kecocokan yang kemudian dilanjutkan ke jenjang yang didasarkan pada cinta.”
Dari hal di atas maka dapat dipahami bahwa secara umum pengertian berpacaran adalah suatu usaha memadukan dua “hati” untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan yang didasarkan pada cinta-kasih.
2. Pengertian Menurut Iman Kristen
Konsep kehidupan orang Kristen berbeda dengan orang-orang lain. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan dalam anugerah untuk mengambil bagian dalam rencana karya penyelamatan Allah dalam tuhan Yesus Kristus. Kehidupan yang bertujuan untuk mengerjakan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelum dunia diajadikan (Efesus 2:10). Oleh karena itu, bagi orang Kristen bahwa pergaulan, pacaran, dan pernikahan tidak lain dari proses kematangan hidup untuk semakin dipersiapkan, memikul dan mengerjakan pekerjaan baik yang sudah disiapkan Allah.
Dalam Kekristenan pacaran disebutkan sebagai suatu masa perkenalan antara dua pribadi yang menjadi satu kesatuan tubuh dalam kasih dan iman yang sungguh kepada Allah (bnd Kej 2:24; 1 Kor 7:1-16). Pacaran bukanlah sekedar perkenalan saja, melainkan suatu hubungan yang mengikat dua pribadi menjadi satu keutuhan yang menuju kepada pernikahan kudus (bnd Mat 19:6a).
Setiap orang akan selalu berusaha mencari orang yang terbaik untuk dijadikan pacar. Seorang laki-laki hendaklah mencari pacar seorang wanita, dan sebaliknya hendaklah seorang wanita mencari pacar seorang pria. Namun yang menjadi pertanyaan : “Apa yang membuat dua jenis manusia itu saling tertarik satu sama lain? Manusia adalah makhluk jasmani dan rohani. Awal ketertarikan dapat dimulai dari segi jasmani atau rohani dan perlu diketahui sulit sekali menetapkan usia berapa tahun dapat berpacaran. Seorang pria dapat tertarik kepada seorang wanita karena kecantikan, kesabaran, kelemahlembutan atau kegigihannya. Dengan berpacaran dua individu berusaha saling mengasihi dan mencintai untuk kemudian dipersatukan sekalipun memiliki rentan usia yang jauh. Baik tua maupun muda tidak lepas dari usa cinta-mencintai.”
Dalam berpacaran ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu :
- Tahap Perkenalan : suatu tahapan di mana dua pribadi berusaha untuk saling mengenal satu sama lain. Bagi pria dan wanita yang sudah saling kenal sebelumnya, proses saling mengenal itu lebih cepat.
- Tahap Penjajakan : pria dan wanita saling berusaha untuk mengenali kebiasaan, dan sifat-sifat. Dari situ mereka dapat saling mengetahui apa mereka beruda saling tertarik dan mau saling berhubungan lebih dekat.
- Tahap Pendekatan : kedua individu berusaha untuk saling menerima satu sama lain, yang akhirnya menampakan ada rasa ingin lebih dekat lagi.
- Tahap Kesepakatan : hubungan kedua individu yang berlainan tersebut bukan lagi sekedar kenal, bukan lagi sekedar bersahabat, melainkan melangkah dalam kesepakatan untuk menikah.
Akan tetapi dalam hubungan berpacaran, seringkali anak-anak remaja jatuh ke dalam dosa seks. Dengan kata lain melakukan seks di luar nika. Berbuat seoalh-olah sudah suami istri, atau menganggap “dunia ini milik kita berdua” dan kurang memperhatikan teman-teman lain yang ada di sekitarnya. Selain itu dalam berpacaran sering juga terhalang karena faktor orang tua tidak setuju, misalnya karena perbedaan suku/budaya, adanya perbedaan pendidikan. Oleh karena itu dalam berpacaran perlu adanya keterbukaan dan pengenalaan yang lebih mendalam lagi mengenai latar belakang seseorang yang akan dijadikan pacar. Selain itu terdapat juga masalah-masalah yang lebih khusus lagi, misalnya cemburu. Hal itu boleh saja terjadi untuk menandakan ada rasa cinta. Tetapi jika berlebihan akan mengakibatkan hal yang sangat fatal. Saling menerima satu sama lain, bukan yang didasarkan pada nafsu (cinta erotis) melainkan didasarkan pada kasih Ilahi.

Bahan Ajaran PAK-2 : “POLA HIDUP REMAJA KRISTEN”

POLA HIDUP REMAJA KRISTEN
Masa remaja merupakan masa pertumbuhan/perkembangan. Perkembangan yang dimaksud bukan arti seakan-akan dalam masa remaja seseorang baru mulai berkembang di dalam kehidupannya. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan fisik, umur, moral ke arah yang lebih baik lagi dari semula (ada perubahan). Masa remaja sering disebut sebagai masa yang penuh gejolak dan masalah. Muatan pelajaran dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang terlalu banyak menuntut waktu dan perhatian mereka serta orang tua sering kali menambah beban anak-anak remaja dalam pergaulan hidup sehari-hari. Tuntutan yang terlalu banyak sering kali membuat seseorang ingin meninggalkan kebiasaan itu dan ingin “berpetualang”. Dalam “petualangannya” seorang anak remaja dapat menjadi seorang yang kehilangan identitas atau lupa diri. Dalam keadaan perkembangan zaman yang sangat pesat dan seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, setiap orang harus tetap memiliki pola hidup yang kokoh dan mengikuti perkembangan itu tanpa kehilangan identitas. Seorang remaja Kristen tetap hidup sebagai seorang Kristen.
1. Pengertian Masa Remaja (Masa Adolesen)
Sebagai seseorang remaja yang sedang masuk dalam tahap dewasa, remaja mengalami perkembangan atau pertumbuhan-pertumbuhan untuk memungkinkan menjadi seorang dewasa. Akan tetapi perlu kita ketahui pengertian masa remaja. Masa remaja (adoselen) dapat dipandang sebagai suatu msa di mana individu dalam proses pertumbuhannya (terutama) telah mencapai kematangan. Periode ini menunjukkan suatu masa kehidupan, di mana kita sulit untuk memandang remaja itu sebagai kanak-kanak, tetapi tidak juga orang dewasa.
Menurut Witherington (Psikolog), masa adolense dapat dibagi dalam dua fase, yaitu :
~ Fase remaja awal (pra-adolensence), yang berkisar antara usia 10 – 15 tahun : masa ini ditandai dengan perubahan fisik, misalnya tumbuh kumis pada anak laki-laki atau menstruasi pada anak perempuan.
~ Fase remaja akhir (late-adolensence), yang berkisar antara usia 15 – 18 tahun. Pada peridoe ini remaja mengadakan penyesuaian sosial menuju kepada kematangan dan penemuan diri.
2. Pokok Pembahasan
Dalam Alkitab dinyatakan dengan jelas : “Anak-anak pada masa mudanya seperti anak-anak panah di tangan pahlawan” (Mzm 127:4). Dalam pencarian serta penemuan diri, seorang remaja tidak terlepas dari situasi masyarakat sekitarnya. Setiap orang lahir dan dibesarkan dalam suatu komunitas, dan tidak terlepas dari komunitas tersebut. Baik buruknya sikap atau pola perilaku seseorang tidak terlepas dari baik buruknya komunitas masyarakat tempat tinggalnya. Dengan kata lain, masyarakat remaja mencapai atau tidak mencapai “sasaran” hidup yang tepat. Pada era modern saat ini yang ditandai dengan kemajuan teknologi, sering kali anak-anak remaja alam “petualangan”nya, menjadi seseorang yang kehilangan identitas. Kemampuan yang lemah dan kekurangsiapan dalam mengikuti dan memanfaatkan perkembangan zaman mengakibatkan seseorang remaja menjadi “korban teknologi”. Misalnya : teknologi informatika komputer yang diwarnai dengan meluasnya sarana “internet” dapat berakibat fatal apabila disalahgunakan dengan pengaksesan situs porno yang dapat merusak moral remaja dan menuntunnya ke arah yang lebih amoral dengan menggemari free-sex (seks bebas).
Akan tetapi faktor kemiskinan keluarga dan ketidakharmoniasan orang tua dapat dijadikan sebagai salah satu penyebab boborknya moral remaja, misalnya mengedar dan konsumsi narkoba sebagai alat ‘penyegar” pikiran dan pelarian, serta sebagai sararana agar diterima dalam peer group (teman sebaya). Pola hidup remaja seperti demikian adalah pola hidup yang bertentangan dengan ajaran Tuhan (Alkitab). Secara nyata Alkitab memang mencatat agar setiap anak menikmati masa mudanya, akan tetapi bukan berarti mengabaikan perintah Tuhan. Sebab jika masa muda dilalui tanpa korelasi yang baik dengan Tuhan maka itu adalah sia-sia (bnd Pkh 11:9-10). Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah : “Bagaimana sebaiknya sikap seorang remaja Kristen dalam menyikapi perkembangan zaman di tengah-tengah pergaulan hidup?”
Menyikapi pola kehidupan remaja Kristen sekarang ini, alangkah baiknya bila back to the Bible (kembali kepada Alkitab). Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Korintus bahwa tubuh itu merupakan bait Roh Kudus, tempat berdiamnya Roh Allah yang telah lunas dibayar harganya. Sebagai bait Allah yang adalah gambaran rupa Allah (imago Dei), setiap manusia (khususnya remaja) harus memiliki dan menyatakan sifat Allah itu, yakni : hidup dalam persekutuan yang kudus dengan Dia, hidup dalam Kasih, hidup kudus, pembawa damai, dan sebagainya.
Menurut John Wesley (Bapak Pendiri Gereja Methodist), setiap orang harus hidup dalam persekutuan dengan Allah untuk menemukan diri dalam diri Allah dengan kekudusan. Kekudusan yang dimaksud Wesley bukanlah kekudusan dalam arti asketis (bertapa untuk menghindari kehidupan masyarakat), kekudusan itu tidak hanya tampak pada self-holiness (kekudusan pribadi), misalnya : doa, puasa, tidak merokok, percaya kepada Tuhan Yesus, dan sebagainya. Melainkan bahwa kekudusan itu hendaknya tampak dalam kehidupan sosial masyarakat (social holiness). Seseorang disebut kudus bila keimanannya kepada Yesus dinyatakan dalam perbuatan baik dan membawa perubahan hidup dalam masyarakat (bnd Yak 2:17) untuk kemudian menuju kepada kesempurnaan Kirsten, yaitu ke dalam hidup yang terus menerus bertumbuh dan dibaharui dalam “Anugerah Allah” yang diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang. Dalam menjawab tantangan zaman, seorang remaja Kristen dituntut untuk menjadi teladan, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dengan kata lain seorang remaja Kristen harus “tampil beda” dari yang non Kristen untuk mencapai “sasaran” hidup yang sesuai kehendak Yesus di tengah-tengah perkembangan zaman yang ditopang dengan adanya komitmen untuk hidup dalam pimpinan Tuhan, – seperti syair lagu dalam Kidung Jemaat No. 413:1.

Bahan Ajaran PAK-1 : “DEFENISI SEORANG MURID KRISTUS”

DEFENISI SEORANG MURID KRISTUS
Orang yang bersedia menjadi pengikut Kristus dinamakan sebagai orang Kristen. Menjadi pengikut Kristus, tidaklah cukup hanya terdaftar sebagai anggota gereja, tetapi lebih dari pada itu, seorang pengikut Kristus harus dapat mengikuti perilaku dan tindakan Kristus. Agar seseorang dapat berperilaku dan bertindak sebagaimana adanya Kristus, tentulah ia juga harus belajar sendiri dari Kristus dan mau menjadi murid Kristus. Banyak orang Kristen mengaku sebagai murid Kristus hanya dengan mulut tetapi dalam pergaulan sehari-hari dalam lingkungannya tidak berperilaku dan bertindak seperti Kristus.
1. Arti seorang Murid Kristus
Joko Suprianto merupakan salah satu pebulutangkis Indonesia yang telah terkenal dan telah beberapa kali mendapat gelar juara baik nasional maupun internasional. Pada tahun 2004, ia menjadi pelatnas untuk pertandingan piala Thomas Cup 2004. ia dipercaya untuk melatih seorang pebulutangkis yang muda. Dengan demikian Joko Suprianto sangat berharap bahwa anak muda yang dilatihnya akan menjadi seorang pebulutangkis seperti dirinya. Untuk ia harus dapat menunjukkan bagaimana menjadi pebulutangkis yang baik. Agar anak muda itu berhasil maka ia harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang pelatih baik secara perkataan maupun berperilaku.
Demikian halnya dengan Tuhan Yesus, yang telah memilih dua belas orang untuk menjadi murid-Nya. Dan tentunya mereka harus mentaati apa yang diperintahakn dan apa yang merupakan perilaku ataupun tindakan Tuhan Yesus. Kendati demikan, ternyata salah satu dari murid-Nya telah menghianati Tuhan Yesus. Seorang murid Kristus dapat didefenisikan sebagai seseorang yang bersedia mendengar dan melakukan segala sesuatu yang telah dikatakan oleh Kristus (Luk 8:21). Mendengar dan melakukan harus seimbang, sebab jika hanya mendengar tanpa melakukan itu sama dengan orang yang besar telinga, sebaliknya jika hanya melakukan tanpa mau mendengar berarti dia bertindak tanpa tujuan dan itu akan segera menjadi kering.
2. Arti Panggilan dan Tanggung Jawab Murid Kristus
Panggilan adalah ajakan yang dijawab dengan komitmen (janji) seseorang untuk tetap berjalan dan melakukan apa yang diharapkan oleh orang yang memanggilnya. Panggilan murid Kristus berarti suatu janji seorang murid Kristus untuk berjalan dan melakukan apa yang diharapkan oleh Kristus dalam diri seseorang. Kita telah dipanggil dari dunia ini untuk menjadi murid Kristus, menjadi imamat yang rajani dan menjadi saksi dalam lingkungan di mana kita berada.
Dalam Ef 4:1-6,12-16, Paulus menuliskan beberapa nasehat agar jemaat yang telah dipanggil keluar, menjadi subah jemaat yang mempunyai kehidupan yang berpadanan dengan panggilan mereka. Nasehat dan tanggung jawab tersebut adalah menunjukkan kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan saling mengasihi. Keempat hal ini diharapkan dapat mereka terapkan kepada setiap jemaat dan lingkungan mereka. Paulus juga menekankan agar jemaat di Efesus mau terus belajar (menjadi murid) dengan bantuan Roh Kudus sampai jemaat mencapai kedewasaan yang penuh.
Dari surat Paulus di atas, terlihat bahwa seorang murid Kristus harus dapat menjadi saksi dan menjadi berkat bagi lingkungannya dimanapun berada. Menjadi murid Kristus diharapkan dapat menunjukkan identitas diri sebagai orang Kristen melalui perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang dikehendaki oleh Tuhan. Di samping itu, seorang murid Kristus harus dapat menjadi garan dan terang dunia (Mat13:16).

PA PEMUDA/I : “LAYANILAH TUHANMU” (EFESUS 6:7)

Layanilah Tuhanmu (Efesus 6:7)
Versi BIS LAI 1981 : "...dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia."
Versi BIS LAI 1981 : “…Pekerjaan yang kalian lakukan sebagai hamba itu, hendaklah kalian kerjakan dengan hati yang gembira seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia.”
Tujuan : Agar Pemuda/i Lebih Memprioritaskan Pelayanan kepada Tuhan di dalam Kehidupannya.

PENGANTAR

Sekilas tentang Kitab Efesus


Kitab Efesus merupakan salah satu surat yang ditulis Paulus kepada jemaat di Efesus. Kitab ini ditulis sekitar 62 M dengan tema utama “Kristus dan Gereja”. Kemungkinan surat ini merupakan surat edaran yang ditujukan untuk gereja-gereja di seluruh propinsi Asia. Kitab ini masih dapat dibagi dua tema dasar yakni : (1) Bagaimana kita ditebus oleh Allah; dan (2) Bagaimana kita harus hidup sebagai umat tertebus


Kehidupan Masa Kini


Dunia ini semakin lama semakin sempit oleh karena perkembangan IPTEK semakin canggih. Di mana pun kita berada kita tetap bisa berhubungan dengan saudara/i, teman-teman, kekasih, keluarga, pimpinan, dsb. Sama halnya dengan informasi. Di mana pun kita berada juga bisa dengan cepat mengetahui apa yang telah terjadi. Jika kita tidak seperti itu berarti kita telah ketinggalan zaman dan tertindas oleh perkembangan yang ada. Sebaliknya jika kita lebih dalam lagi masuk ke dalam perkembangan itu maka kita adalah orang yang dikuasai oleh perkembangan dan akan membuat kita lupa dengan tujuan hidup kita yang sebenarnya dan semakin lama akan jatuh ke dalam dosa. Siapa yang salah? Tuhan...! Bukan...! Iblislah yang berperan utama. Tetapi, manusia lebih bersalah lagi karena manusia itu sendiri telah menyalahgunakan karunia yang diberikan Tuhan, termasuk perkembangan itu. Lebih parah lagi, jikalau pemuda/i itu tidak dapat menikmati perkembangan itu merasa dirinya menderita dan malah berusaha mencoba untuk masuk ke perkembangan dengan cara menjerumuskan dirinya ke dunia gelap. Habis Kolo dengan memuji Tuhan ato kebaktian ato bilangin yang benar aja aku malah ketinggalan zaman...! Betul...nggak...? Memang jikalau hanya kebaktian doang atau memuji Tuhan dengan mulut, tidak dengan iman sudah barang tentu kita tertindas oleh perkembangan dan dikuasai oleh dosa. Hanya karena perkembangan zaman semakin pesat menguasai jiwa manusia (khususnya Pemuda/i) membuat dirinya lebih suka dilayani daripada melayani, apalagi tidak mau melayani Tuhan. Uniknya lakon ini dibantu oleh sutradara yang tersohor di jagat raya yang bukan skenario dari Tuhan. Padahal Dia telah menuliskan cerita untuk kita lakonkan dengan baik. Tetapi kita malah mengikuti cerita yang sudah diputarbalikkan sang sutradara (alias setan) dengan iming-iming imbalan yang besar dan cepat didapat. Betul juga..., pantas aja pemuda/i ini lebih suka dengan hidup yang hura-hura yang hedonitif. Memang pada awalnya si lakon mendapat imbalan besar, tetapi tak tahunya lakon yang salah itu membuat diri terjebak dalam penjara dosa. Lakon yang dipilihnya itu ternyata dilakukan untuk melayani si perusak skenario alias Iblis atau setan. Itu masih anak buahnya, lho...! Gimana kalau rajanya yang terjun langsung. Wah..., bisa-bisa jiwa kita malah menjadi antek-antek iblis dan membantu segala pekerjaannya. Kasihan sekali pemuda/i yang ikut di dalamnya. Keinginannya untuk dilayani malah terbalik melayani iblis. Andai dia ikut Tuhan ia tidak akan seperti itu. Memang berat melayani Tuhan, tetapi justru lebih berat melayani iblis. Memang pada awalnya tidak begitu sulit tetapi pada akhirnya kita akan dituntut melakukan banyak permintaan dari Iblis sampai membuat kita mati kekal. Bagaimana dengan nasib pemuda/i yang terjebak dalam dunia gelap? Nasibnya memang sudah sekarat, tetapi nasibnya masih dapat diubah selagi dia masih mau bertobat dan kembali dari awal untuk mengikuti skenario dari Tuhan. Permintaan Tuhan tidak banyak, pokoknya kita layani Tuhan. Caranya, kita lihat penjelasannya di bawah ini!


PENJELASAN


“Layanilah Tuhan...” merupakan tema PA kita hari ini. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata dasar Layani adalah layan. Namun kita semua jarang memperhatikan kata dasar tersebut. Bagaimana rupanya maksud kata Layanilah Tuhanmu? Untuk itu mari perhatikan beberapa hal di bawah ini :
- Mat 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Bagian ini merupakan amanat dari Tuhan yang harus kita jalankan yakni menjadi Pekabar Injil.
- Ul 18:7, “…dan menyelenggarakan kebaktian demi nama TUHAN, Allahnya, sama seperti semua saudaranya, orang-orang Lewi, yang melayani TUHAN di sana,…”. Melalui kebaktian kita juga dapat melayani Tuhan.
- 2 Taw 30:22, “Hizkia mengucapkan kata-kata pujian kepada semua orang Lewi yang menunjukkan akal budi yang baik dalam melayani TUHAN. Demikianlah orang memakan makanan perayaan selama tujuh hari, sambil mempersembahkan korban keselamatan dan mengucapkan syukur kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka…”. Dengan akal budi sambil memberi persembahan kita dapat melayani Tuhan.
- Kis 20:19, “…dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.” Melayani Tuhan dengan kerendahan hati meskipun dalam penderitaan.
- 1 Kor 7:35, “Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan”. Melakukan yang benar dan baik menurut Tuhan adalah melayani Tuhan juga.
- Ef 6:7, (Nats PA kita) Mengajak kita untuk melayani Tuhan dengan penuh kerelaan.


Berbicara tentang melayani Tuhan tidak luput dari siapa orang yang melayani. Jadi orang yang melayani Tuhan disebut Pelayan Tuhan. Secara khusus Pelayan Tuhan itu meliputi para Imam, Pendeta, Gembala Sidang, Pastor, Prater, Penatua Gereja, Majelis, dan Pengurus Gereja. Tetapi yang perlu dipahami adalah makna yang lebih luas. Siapapun, di mana pun, berada dan apapun terjadi semua orang bisa jadi pelayan Tuhan. Hanya saja praktek pelayanannya sedikit banyak pasti berbeda dengan Pelayan Tuhan dalam arti khusus. Perkembangan bukanlah menjadi pengatur hidup kita untuk tidak berkomunikasi dengan Tuhan. Jika teknologi informasi dan komunikasi di dunia ini berkembang, maka kitapun tetap lebih memperndalam komunikasi dengan Tuhan. Perkembangan itu sangat kita butuhkan dan kita inginkan, tetapi perkembangan itu dapat juga kita gunakan untuk melayani Tuhan, bukan hanya melayani sendiri. Lihat kalimat “...seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia...”, kalimat bukan manusia jangan kita artikan ‘manusia tidak dilayani’. Dapat kita bandingkan dengan versi Alkitab BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Ditulis di situ adalah bukan hanya manusia. (Ingat, Alkitab BIS terbitan LAI bukan digunakan untuk menambah atau mengurangi isi tulisan Alkitab, melainkan untuk memberi penjelasan secara tersurat dan tersirat. Artinya menjelaskan makna secara harifah dan tersembunyi). Dengan demikian dapat disimpulkan ayat ini merupakan panggilan atau ajakan agar kita melayani sesama kita dan yang paling utama dan pertama melayani Tuhan. Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dulu melayani kita. Sekarang, kapan giliran anda untuk melayani Tuhan? Riwayat pelayanan Kristus dapat tiru untuk melayani-Nya. So, serve your Lord....! (Layanilah Tuhanmu).

"AMIN"

PA PEMUDA/I : “KITA ADALAH BAIT ALLAH” (1KORINTUS 3:9-17)

I KORINTUS 3:9-17, “KITA ADALAH BAIT ALLAH”



9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.
10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 11 Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. 12 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, 13 sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. 14 Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. 15 Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. 16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.



TUJUAN : Sebagai Bait Allah Pemuda Harus Menjaga Kekudusan Dan Membiarkan Dirinya Dituntun Oleh Allah


PENGANTAR


Sekilas Tentang Kitab Korintus

 
Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat di Korintus ditulis untuk membahas persoalan-persoalan yang timbul di dalam jemaat yang telah didirikan oleh Paulus di Korintus itu. Persoalan-persoalan tersebut adalah mengenai kehidupan dan kepercayaan Kristen. Pada waktu itu Korintus adalah sebuah kota Yunani, ibukota provinsi Akhaya yang termasuk wilayah pemerintahan Roma. Kota ini, yang penduduknya terdiri dari banyak macam bangsa, terkenal karena kemajuannya dalam perdagangan, kebudayaannya yang tinggi, tetapi juga karena keadaan susilanya yang rendah dan karena adanya bermacam-macam agama di situ. Yang terutama menjadi pikiran Rasul Paulus ialah persoalan tentang perpecahan dan kebejatan di dalam jemaat, dan tentang persoalan-persoalan seks dan perkawinan, persoalan hati nurani, tata tertib dalam jemaat, karunia-karunia Roh Allah, dan tentang bangkitnya orang mati. Dengan pandangan yang dalam, Paulus menunjukkan bagaimana Kabar Baik dari Allah itu menyoroti persoalan-persoalan tersebut. 


Dalam Kehidupan Masa Kini

Sekarang ini banyak persoalan yang datang dalam kehidupan warga Gereja khususnya pemuda/i/remaja dikarenakan oleh perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh karena itu, para pemuda/i/remaja berusaha untuk mengikuti perubahan tersebut. Di masa mereka mengikuti perkembangan tersebut malah banyak merasa kekurangan, menyesal, dan bahkan terjebak dalam dunia gelap. Kenapa demikian? Memang perkembangan itu sebagian dapat membuat hidup kita senang dan tenang, tetapi justru kita tidak memahami perkembangan tersebut. Artinya kita tidak mempelajari ke mana arah perkembangan tersebut membawa kita. Apakah itu akan membawa kita ke masa yang lebih baik atau justru sebaliknya? Sepertihalnya dengan perkembangan industri tekhnologi multimedia. Semisal: Hand Phone, internet yang malah disalahgunakan fungsinya. Juga dengan telah beredarnya narkoba. Barang ini sebenarnya tidak haram bila digunakan pada fungsi yang sebenarnya, dibidang kedokteran hal ini sangat dibutuhkan itupun disesuaikan dengan aturannya. Tidak hanya itu saja perkembangan yang mempengaruhi hidup para pemuda/i/remaja masa kini. 


Kenapa hal itu terjadi? Karena pemuda/i/remaja kurang dibekali dengan dasar yang benar seperti halnya bangunan yang tidak dibuat dengan pondasi yang kokoh. Dengan tidak adanya pondasi/dasar yang kuat, maka pemuda/i/remaja akan mudah terjebak oleh pengaruh-pengaruh yang muncul. Banyak Pemuda/i/remaja mengakui dirinya pengikut Kristus karena ikut kebaktian, PA, membaca Alkitab. Akan tetapi hanya sebatas itu saja, artinya tidak mengimani Kristus dalam dirinya. Padahal bila dikatakan pengikut Kristus berarti adalah Bait Allah, yang justru dirusak oleh kita.


PENJELASAN


Bait Allah dapat didefenisikan sebagai Gereja. Perlu kita ketahui bahwa pengertian Gereja ada tiga macam. Pertama, gereja adalah bangunan ibadah Kristen; kedua, gereja adalah suatu organisai atau kelembagaan bagi orang Kristen; ketiga, gereja adalah orang yang dipanggil menjadi kudus dari dunia gelap menuju terang yang ajaib. Dalam hal ini pengertian yang ketigalah yang kita bahas. Berarti dari pengertian tersebut bahwa Gereja itu adalah kita sendiri, yang telah dan akan diselamatkan oleh Kristus dari kebinasaan (bnd Yoh 3:16). Dari pengertian tersebut dapat kita lihat pada nats yang kita bahas hari ini. Lihat ayat 16, … bahwa kamu adalah bait Allah… (versi King James: Know ye not that ye are the temple of God; versi Today English; you are God's temple; sama dengan terjemahan bahasa Inggris biasa: you are the God’s Church). Istilah Bait itu berawal dari sebutan kuil. Istilah itu digunakan Paulus karena pada waktu itu banyak kuil yang digunakan memuja dewa, dan juga dipakai sebagai tempat ibadah untuk memuji Tuhan Yesus Kristus. Dari bahasa Inggris saja yaitu temple, menurut menurut kamus yang kebanyakan hanya mengartikannya sebagai kuil/candi. Namun bila kita lihat kamus Theologi Inggris-Indonesia kata temple diartikan sebagai gereja, kuil, dan bait.


Kamu adalah Bait Allah adalah pernyataan yang mendefenisikan kita sebagai manusia ciptaan Allah yang telah dan akan tetap diselamatkan oleh Kristus. Kalimat tersebut cocoknya disebut kamu adalah Gereja (nb. Bukan mengubah tulisan isi Alkitab). Bila kita dikatakan adalah Gereja berarti kita harus membuat pondasi yang kuat, karena kita sendirilah yang membangun sekaligus kita adalah bangunan dan ladang Allah (ay 9). Tanpa pondasi yang kuat, tentu bangunan itu akan roboh atau tanpa pupuk yang asli maka ladang itu cepat rusak dan lambat pertumbuhannya. Nah, supaya dasar bangunan itu kuat atau ladang itu membuahkan hasil bagus maka kita harus menjadi Yesus sebagai dasarnya (ay 11). Sebagai illustrasinya dapat kita lihat dalam Mat 7:24-27 (dua macam dasar). Ingat, hanya Yesus satu-satunya dasar hidup kita, bukan sembarang dasar seperti emas, perak, dsb (ay 12). Sebab suatu saat nanti dasar itu akan diuji oleh Tuhan dengan cara-Nya sendiri, jika tahan uji akan diberi upah (ay 13-15).


Bila memang anda, saya, dan semuanya adalah Bait Allah/Gereja Tuhan maka kita harus mengimaninya (ay 16). Kita tidak perlu merasa khawatir, kita sebagai Bait Allah akan dijaga oleh-Nya dari kebinasaan (ay 17).

"AMIN"

"ALKITAB ITU LUAR BIASA…!”

Kepada Saudara/iku yang terkasih yang ada di Indonesia dan di berbagai belahan dunia, semoga tulisan ini bermanfaat bagi hidup anda. Amin...!


Dalam ajaran Kristen Alkitab sering disebut Kitab Suci (bhs. Inggris : Holy Bible), dan sering orang salah pengertian tentang arti Alkitab. Apa pengertian Alkitab? Alkitab adalah sekumpulan firman Tuhan berkendaraan friman manusia. Apa pula pengertian berkendaraan dengan manusia? Dikatakan demikian karena Alkitab itu jelas-jelas ditulis oleh manusia yang diilhami oleh Tuhan. Artinya bukan asal ditulis oleh manusia tetapi harus benar-benar dari ilham Tuhan atau yang diperintahkan oleh Tuhan.


Alkitab itu terbagi 2 (dua) Perjanjian yakni Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Kitab PL terdiri dari 39 Kitab, dan PB terdiri dari 27. Perlu diketahui bahwa Alkitab tidaklah ditulis secara berurutan dan bersamaan. Penulisannya pun berbebeda bahasa bahkan konteks situasionalnya pun berbeda. Bahasa asli yang dipakai adalah bahasa Ibrani untuk PL (sebagian bahasa Aram kuno) dan bahasa Yunani untuk PB (sebagian bahasa Latin). Bahasa yang dipakai pada zaman Alkitab bukanlah bahasa Ibrani/Yunani modern, untuk itulah diperlukan ahli teolog dalam berbagai bidang , semisal : teologia Dasar, teologia sistematika, teologia biblika, teologia liturgika. Tanpa ilmu teologia kemungkinan besar kita tidak akan bisa membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah/lain. Akan tetapi, penggunaan ilmu teologia sangat disayangkan. Kenapa? Akibat dari perkembangan ilmu tersebut telah terjadi perubahan keyakinan terhadap jemaat. Banyak para ahli teolog memberi pendapat, dan pendapat itu ada yang diterima atau ditolak/dibantah oleh ahli teolog lain. Perbedaan pendapat itu wajar saja tetapi tidak harus merubah keyakinan jemaat. Ini semua hanya karena pemahaman yang salah terhadap Alkitab itu sendiri. Jujur saja, Alkitab itu ada yang kurang atau hilang tulisannya diakibatkan adanya pembakaran atau gangguan pada zamannya. Sehingga para teolog merasa kesulitan untuk memahaminya. Itu makanya terjadi perbedaan pemahaman dan pandangan terhadap isi dari Alkitab itu sendiri.


Perlukah teologia atau ilmu tafsir? Sangat perlu...!!! Kenapa??? Karena tanpa teologia dan ilmu tafsir kita tidak menemukan apa sebenarnya makna dan isi dari Alkitab tersebut. Perlu dipahami, berdoa adalah bagian dari teologia, beribadah adalah teologia, hidup ini adalah teologia, dan menerjemahkan ke berbagai bahasa adalah juga bagian dari ilmu tafsir. Apakah sadara/i masih kurang paham? Baik, baca buku cerita atau buku puisi. Tentu kita masih kesulitan untuk memahaminya, maka dibutuhkanlah beberapa metode penafsiran agar kita bisa menemukan maknanya. Ingat, jangan paksakan diri anda untuk memahami hal tersebut. Untuk mempelajari Alkitab dibutuhkan kesiapan hati yang didukung oleh doa. 



Menafsir boleh, tetapi bukan dengan kehendak sendiri karena dalam Kitab 2 Petrus 1:20-21 dikatakan bahwa “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” Berarti dengan apa dong menafsir? Tentu menafsir dengan dorongan Roh Kudus. Maksudnya, semua itu kita lakukan harus dengan doa. Ingat untuk menjawab Alkitab harus dengan Alkitab disertai dengan doa, sebagai tambahan adalah literatur lain yang tentunya tidak menyesatkan anda.


Agar lebih gampang memahami Alkitab ada beberapa langkah untuk mempelajarinya :
1. Terlebih dahulu Berdoa kepada Tuhan (bagi non-Kristen juga harus berdoa kepada yang diyakini untuk mohon petunjuk agar tidak terjadi kesalahpahaman);
2. Bukalah kitab pasal, perikop, ayat yang akan anda baca (cth.: Matius 28:19-20);
3. Bacalah berulang-ulang isi Nats (jika nats yang kita pilih hanya satu ayat ada baiknya kita baca satu perikop)
4. Bacalah perikop sebelum dan sesudah nats tersebut;
5. Perhatikan kata/kalimat yang ditekankan;
6. Temukanlah maknanya secara meluas, untuk menemukan makna anda harus membuat makna secara tersurat dan tersirat (tersembunyi);
7. Untuk menemukan pengertian selanjutnya, bandingkanlah dengan kitab lain yang ada dalam Alkitab;
8. Nah, jika sudah ketemu coba tentukan siapa-siapa saja orang yang disebutkan di dalamnya;
9. Tentukanlah apa tujuan dari pada isi nats pada masa/zaman nats tersebut;
10. Kemudian carilah hubungannya dengan saat ini;
11. Dan tentukanlah kesimpulan, lalu berdoa.


Hal-hal yang harus dihindari dalam memahami Alkitab:
1. Tidak berdoa;
2. Hanya memahami arti yang tertulis saja;
3. Membuat kesimpulan tanpa membaca dengan berulang-ulang;
4. Tidak menggunakan nats lain untuk menjawab nats yang dibaca.


Hal-hal yang perlu diketahui tentang Alkitab :
1. Alkitab bukanlah jimat atau pun sejenisnya (semisal mengusir hantu);
2. Alkitab bisa menjawab segala masalah jika memahaminya;
3. Tema Totalitas Alkitab Adalah Kasih;
4. Alkitab tidak akan berngaruh magis dalam diri kita jika hanya dibaca saja (mekipun dibaca berulang-ulang), atau memberi pahala bagi hidup kita.
5. Alkitab tidak hanya dibaca saja, tetapi harus dihayati, diamalkan dan dilakukan serta menjadi pedoman bagi hidup kita sehari-hari.


Jika kita perhatikan isi dari Kitab PL kelihatannya jauh berbeda dengan Kitab, seolah menyatakan bahwa Tuhan yang ada dalam kisah PL itu sangat kejam dan keras, sedangkan dalam PB Tuhan itu baik...! Sebenarnya tidaklah demikian, kita harus paham bahwa konteks pada zaman PL dan PB itu berbeda maka situasi Tuhan pada waktu itu pun berbeda. Manusia pada zaman PL belum memiliki pikiran yang maju, untuk itulah Tuhan mencoba menggembleng manusia dengan keras agar manusia bisa memiliki jiwa yang loyal dan berpikiran yang maju. Tepat sekali, akhirnya manusia pun berkembang dalam pemikiran dan keyakinan. Namun sangat disayangkan, dasar manusia masih mudah tergoda oleh tipuan muslihat setan/iblis sehingga manusia itu menggunakan kepintarannya untuk melakukankan kejahatan. Apakah Tuhan di situ gagal merawat/memeilhara manusia? Tidak! Manusia itu sendiri yang salah menggunakan kebebasan. Tuhan telah memberi kebebasan kepada manusia, dan berfirman agar kebebasan itu dijalakn untu melakukan apa yang benar dan baik menurut Tuhan. Apakah Tuhan salah memberi kebebasan? Tidak! Coba bayangkan, jika manusia tidak diberi kebebasan melainkan hanya berdoa, memuji, kebaktian...wah..., kapan kita bisa berkarya atau belajar...? Tidak tahu...! Kepada saudara/iku, ingatlah bahwa Tuhan itu tidak bisa kita pelajari. Yang bisa kita pelajari adalah hanya segala tindakan dan perbuatan-Nya.


Kembali ke Alkitab, maka pada zaman PB Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Itu makanya dalam Alkitab PB lebih banyak terdapat kata Kasih. Sebagai catatan, kata “mengutus” itu memiliki arti yang luas. Bukan menyatakan bahwa Tuhan mengambil Malaikat atau menciptakan manusia baru yang memiliki kekuatan yang hebat dari makhluk lain. Apa dasarnya bahwa Yesus dianggap sebagai Tuhan? Gampang saja jawabannya. Dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Roti Kehidupan. Lihat/baca Yoh 6:49-51: Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Apa makna Roti Hidup? Penggunaan kedua kata itu dalam diri-Nya adalah merupakan pernyataan bahwa hanya Dialah satu-satunya jalan keselamatan. Tak satupun manusia berani menyatakan seperti itu. Jika manusia seperti kita adalah roti kehidupan berarti kita bisa menjadi penyelamat dan penebus dosa. Tetapi adalah mustahil, sebab kita adalah manusia biasa dan tak dapat berbuat apa-apa seperti apa yang dilakukan-Nya. Kita hanya bisa melakukan apa yang benar dan baik menurut-Nya (itupun kalau kita benar-benar pengikut-Nya). 


Alkitab itu luar biasa...! Itulah merupakan topik utama dalam tulisan ini. Nah, apa-apa saja keluarbiasaan Alkitab tersebut, mari kita simak dan baca secara seksama di bawah ini:


1. Alkitab bisa menjadi pengubah tingkah laku orang jikalau orang tersebut benar-benar membacanya (secara berulang-ulang), kemudian dihayati, diamalkan serta dilaksanakan maksudnya, sekilas contoh : Beberapa “pemberontak” terkenal, yang menenggelamkan kapala Inggeris “Bounty”, akhirnya terdampar dan tinggal dengan wanita pribumi di pulau terpencil Pitcairn, Pasifik Selatan. Kelompok ini terdiri dari sembilan pelaut Inggeris, enam pria Tahiti, sepuluh wanita Tahiti dan seorang gadis berusia 15 tahun. Seorang dari pelaut itu menemukan bagaimana menyuling alkohol dan segera seluruh koloni pulau itu rusak karena mabuk-mabukan. Perselisihan di antara pria dan wanita di situ berkembang menjadi saling melakukan kekerasan. Setelah beberapa waktu kemudian hanya satu dari orang yang mula-mula mencapai pulau itu hidup. Tetapi orang ini, Alexander Smith, menemukan sebuah Alkitab dari peti yang diambil dari kapal. Ia mulai membacanya dan mengajarkan orang lain apa yang dikatakan Alkitab itu. Sementara ia melakukan ini hidupnya sendiri berubah, dan demikian pun akhirnya mengubah kehidupan semua yang berada di pulau itu.Orang-orang pribumi ini sangat terisolasi dari dunia luar sampai datangnya kapal “Topaz” dari Amerika Serikat pada tahun 1808. Para awak kapal menemukan di pulau itu suatu masyarakat yang mengagumkan, makmur tanpa wisky, tanpa penjara, tanpa kejahatan.


2. Alkitab mengandung sejarah perkembangan peradaban manusia;


3. Alkitab adalah merupakan kitab yang bisa menjawab ilmu pengetahuan, seperti halnya Marcopolo de Albuquerque membaca Kitab Yesaya 40:22, Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman! Hal itulah yang membuat dirinya menjadi pelaut setelah dia mempraktekkan apa yang telah dibacanya yaitu tentang Bulatan Bumi. Jikalau bumi bulat berarti kita akan tetap bias kembali sekalipun kita tarik garis lurus untuk mengelilingi bumi. Dan ternyata benar bahwa bumi bulat.


4. Alkitab telah menceritakan apa yang akan terjadi, dan 1 ¼ dari apa yang telah diceritakan telah terjadi dan itu bukanlah ramalan;


5. Penerjemahan Alkitab telah mempengaruhi perkembangan bahasa di seluruh dunia. Ada daerah atau negara lain yang sudah memiliki bahasa tetapi belum memiliki tata bahasa yang sempurna, dan oleh karena itu para teolog berusaha menerjemahkannya ke bahasa tersebut sehingga lahir bahasa-bahasa yang memiliki tata bahasa yang sempurna, misalnya bahasa batak toba, atau daerah lainnya. Baca artikel di bawah :

Berabad-abad lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di seluruh dunia.
Ada tiga alasan yang menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya tidak dikenal oleh orang-orang biasa.
Mula-mula, pada zaman dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan Alkitab itu sangat langka dan sangat mahal harganya.
Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat bahwa jika orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti akan timbul banyak tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran mereka), lebih baik jika hak istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja oleh para rohaniawan.
Alasan ketiga ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis dalam bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat membacanya, pun tidak dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain.
Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16, ketiga alasan yang menjadi penghalang itu berturut-turut dihapus.
Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh orang-orang Barat (walau pada hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku lengkap yang pertama-tama dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan Alkitab menjadi jauh lebih mudah diperoleh.
Kemudian timbul Reformasi Protestan di benua Eropa. Gerakan pembaharuan gereja itu menekankan bahwa tiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas keadaan rohaninya. Jadi, belum cukuplah jika ia mendengar tafsiran Alkitab yang diberikan oleh orang lain; ia harus dapat mempunyai Alkitab sendiri, serta harus dapat mengerti isinya.
Tentu saja, untuk dapat mencapai maksud tadi, Alkitab harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang biasa dipakai oleh kebanyakan orang. Dan justru itulah yang berlangsung di seluruh dunia, mulai pada abad yang ke-16.
Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara. Memang sudah ada orang-orang Kristen di sini: Kaum Kristen Nestorian mulai datang ke kepulauan Indonesia pada abad yang ke-12, dan kaum Kristen Katolik mulai datang pada abad yang ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang mereka bawa itu tertulis dalam bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh putra-putri Nusantara.
Ada juga halangan khusus di Nusantara yang mencegah orang mempunyai dan membaca Alkitab, yakni: Orang-orang yang tinggal di berbagai-bagai pulau itu berbicara dalam berbagai-bagai bahasa pula. Jika seorang pelaut pergi berlayar di Nusantara, belum tentu ia dapat bercakap-cakap dengan orang-orang di pulau tempat tujuannya.
Namun ada juga bahasa-bahasa yang umumnya dipakai kalau putra-putri Nusantara pergi ke pasar atau berdagang di pelabuhan. Salah satu bahasa perniagaan itu ialah bahasa Portugis; tetapi yang lebih umum lagi ialah, bahasa Melayu (yang sesungguhnya merupakan nenek moyang bahasa Indonesia).
Anehnya, Alkitab mula-mula diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, bukan di negeri Portugis sendiri, melainkan di Nusantara!
Pada pertengahan abad yang ke-17, seorang anak laki-laki kecil dibawa dari Portugis ke kota Malaka, di semenanjung Melayu. Ketika ia masih berumur belasan tahun, bocah itu mulai percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya. Dan pada umur yang masih sangat muda, mulailah dia menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa ibunya. Kemudian, tatkala ia pindah dari Malaka ke Jakarta, ia sempat menyelesaikan terjemahannya itu. Ia juga menerjemahkan sebagian besar dari Kitab Perjanjian Lama.
Tetapi lambat laun penjajah bangsa Portugis itu diusir dari seluruh Nusantara oleh penjajah bangsa Belanda. Karena itu makin lama makin sedikit orang yang menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa perdagangan antar pulau. Dan Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di kepalauan Indonesia.
Anehnya, orang-orang yang mula-mula insaf bahwa Firman Allah seharusnya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu bukannya para pendeta dan penginjil, melainkan para pelaut dan pedagang. Pada permulaan abad yang ke-17, seorang pelaut Belanda bernama Houtman ditangkap dan dipenjarakan oleh suku Aceh yang pada waktu itu terkenal cukup garang. Selama ditahan di Sumatera Utara, orang Belanda itu sempat belajar bahasa Melayu. Setelah dibebaskan, mulai pada tahun 1605 ia menerbitkan beberapa tulisan Kristen yangg sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu.
Sementara itu, seorang pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl berlayar dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1600. Ia menyadari bahwa Alkitab perlu dibaca oleh putra-putri Nusantara. Bahkan ia membujuk rekan-rekan sekerjanya sampai mereka rela membayar semua ongkos penerbitan untuk proyek terjemahannya itu. Pada tahun 1612 Ruyl sudah selesai mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius ke dalam bahasa Melayu. Tetapi baru tujuh belas tahun kemudian, hasil karyanya itu dicetak.
Dalam bahasa Melayu terjemahan Ruyl, Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) berbunyi sebagai berikut:
"Bappa kita, jang adda de surga:
Namma mou jadi bersakti.
Radjat-mu mendatang
kandhatimu menjadi
de bumi seperti de surga.
Roti kita derri sa hari-hari membrikan kita sa hari inila.
Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita,
seperti kita ber-ampun
akan siapa ber-sala kepada kita.
D'jang-an hentar kita kepada tjobahan,
tetapi lepasken kita dari jang d'jakat."
Hanya sebagian saja dari Alkitab yang sempat diterjemahkan oleh A. C. Ruyl, pedagang Belanda tadi. Lagi pula, bahasa Melayu yang dipakainya itu sangat jelek. Misalnya, ia belum mengerti perbedaan antara "kita" dengan "kami."
Dalam terjemahan Daniel Brouwerius, yang mula-mula diterbitkan pada tahun 1668, Doa Bapa Kami berbunyi sebagai berikut:
"Bappa cami, jang adda de Surga,
Namma-mou jaddi bersacti.
Radjat-mou datang.
Candati-mou jaddi
bagitou de boumi bagaimana de surga.
Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami.
Lagi ampon doossa cami,
bagaimana cami ampon
capada orang jang salla pada cami.
Lagi jangan antarrken cami de dalam tsjobahan
hanja lepasken cami derri jang djahat."
Tujuh tahun setelah Kitab Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius itu diterbitkan, seorang pendeta tentara tiba di Jawa Timur. Siapa namanya? Dr. Melchior Leydekker. Di samping menjadi seorang pendeta, ia juga seorang dokter. Pada tahun 1678, Dr. Leydekker pindah lagi dari jawa Timur ke Jakarta, dan tetap tinggal di ibu kota selama sisa umurnya.
Dr. Leydekker menjadi pandai sekali berkhotbah dalam bahasa Melayu. Jadi, pada tahun 1691 dialah yang ditunjuk untuk mulai menyiapkan suatu terjemahan seluruh Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami di seluruh Nusantara.
Selama sepuluh tahun Dr. Leydekker bekerja dengan tekun. Terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dihasilkannya. Lalu ia terus mulai mengalihbahasakan Kitab Perjanjian Baru. Sayang, ia tidak sempat menyelesaikan tugas yang mulia itu: Ia meninggal pada tahun 1701, setelah mengerjakan terjemahannya sampai dengan Efesus 6:6.
Kutipan Doa Bapa Kami dari terjemahan bahasa Melayu Dr. Melchior Leydekker di bawah ini telah disusun kembali menurut ejaan yang disempurnakan dan menurut tanda-tanda baca yang modern. Dengan demikian lebih jelaslah persamaannya dengan ayat-ayat yang sama itu dalam terjemahan biasa bahasa Indonesia:
"Bapa kami yang di sorga,
namaMu dipersucilah kiranya.
KerajaanMu datanglah.
KehendakMu jadilah,
seperti di dalam sorga, demikianlah di atas bumi.
Roti kami sehari berilah akan kami pada hari ini.
Dan ampunilah pada kami segala salah kami,
seperti lagi kami ini mengampuni
pada orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami kepada percobaan,
hanya lepaskanlah kami daripada yang jahat."
Salah seorang rekan Dr. Leydekker almarhum ditunjuk untuk menyelesaikan tugasnya, sehingga pada tahun 1701 itu juga sudah ada Firman Allah yang lengkap dalam bahasa Melayu. Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk putra-putri Nusantara. Mengapa sampai terjadi demikian?
Pada masa Melchior Leydekker masih menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan kependetaan di Belanda, lahirlah di negeri itu seorang anak laki-laki dalam keluarga seorang pembantu kepala sekolah. Anak laki-laki itu lahir pada tahun 1965 dan diberi nama Francois Valentyn. Rupa-rupanya ia seorang pemuda yang pandai, karena ia baru mencapai umur 20 tahun ketika ia diizinkan meninggalkan kuliah teologinya serta pergi ke Maluku sebagai seorang pendeta. Rupa-rupanya ia juga cepat mahir dalam bahasa Melayu: Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup berkhotbah dalam bahasa setempat setelah belajar hanya tiga bulan lamanya.
Pada suatu hari, kebetulan seorang pendeta tua datang ke Ambon dan menginap di tempat tinggal pendeta yang masih muda tadi. Sang pendeta tua membawa serta sebuah naskah besar. "Warisan," katanya. "Naskah ini dulu ditulis oleh seorang pendeta yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kemudian sang janda memberikan naskah ini kepadaku.
Secara tidak terduga pendeta tua itu meninggal pada waktu ia bertemu di rumah pastori di Ambon. Maka Naskah kuno itu jatuh ke dalam tangan Pdt. Francois Valentyn. Ketika diperiksa, ternyata tulisan tangan itu adalah terjemahan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu!
Pdt. Valentyn adalah seorang yang rajin. Ia rajin menyelidiki bahasa dan kebudayaan orang Maluku. Dan ia pun rajin mencari teman-teman baru di tempat pelayanannya. Salah seorang teman barunya itu adalah seorang janda kaya. Setelah menikah dengan janda itu, Pdt. Valentyn kembali ke tanah airnya pada tahun 1695. Naskah kuno itu pun dibawa ke Belanda.
Kemudian, pada permulaan abad yang ke-18 diumumkan bahwa Dr. Melchior Leydekker almarhum (dengan bantuan salah seorang rekannya) telah berhasil menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu.
Mungkinkah Pdt. Francois Valentyn menjadi iri hati? Mungkinkah ia berkeinginan supaya dia saja yang dihormati (dan bukan orang-orang yang sudah meninggal) sebagai penerjemah yang pertama-tama menghasilkan seluruh Firman Allah dalam bahasa Nusantara?
Bagaimanapun juga, Pdt. Valentyn mulai mempromosikan dirinya sebagai penerjemah naskah kuno seluruh Alkitab itu (yang hanya kebetulan saja ada di dalam tangannya). Katanya, terjemahan itu juga lebih baik, jauh lebih modern, bahkan jauh lebuh mudah dipahami terjemahan Dr. Leydekker.
Tentu saja umat Kristen menjadi bingung. Baik di Belanda maupun kepulauan Indonesia, ada orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Valentyn, tetapi ada juga orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Leydekker. Akibatnya, kedua terjemahan itu tidak jadi diterbitkan. Dan sekali lagi, selama berpuluh-puluh tahun, Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri Nusantara.
Akhirnya duduk perkaranya terungkap dengan jelas. "Terjemahan Valentyn" itu diselidiki dan dinyatakan sebagai hasil karya orang lain. Lagi pula, terjemahan itu dinilai sangat jelek.
Akan tetapi sementara perselisihan pendapat itu masih berlangsung, sudah lewat juga dua puluh tahun lebih. Ada orang-orang yang merasa bahwa terjemahan Leydekker tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Maka pada tahun 1723 sebuah panitia ditunjuk untuk menyunting kembali naskah terjemahannya itu. Selama enam tahun mereka mengerjakan edisinya yang baru.
Menjelang tahun 1729, naskah terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu dua kali disalin dengan tulisan tangan: sekali dalam huruf Latin, dan sekali lagi dalam huruf Arab. Kedua naskah itu masing-masing dikirim ke Belanda dalam dua kapal yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa walau satu naskah jadi hilang di dasar laut, namun naskah yang satunya lagi itu masih akan tiba dengan selamat. Salah seorang penyuntingnya juga berlayar ke tanah airnya, untuk mengawasi proyek penerbitan yang besar itu.
Kitab Perjanjian Baru terjemahan Leydekker keluar pada tahun 1731. Lalu Alkitab lengkap terjemahan Leydekker diterbitkan pada tahun 1733. Maka akhirnya juga Firman Allah tidak lagi bungkam dalam bahasa Nusantara!



6. Dan masih banyak lagi.


Jika ada yang ingin menambahkan dari keluarbiasaan Alkitab silahkan untuk menambahinya. 


Bagamaina perasaan anda setelah membaca tulisan ini...?

23 March 2008

POETRY OF CHRISTINE SIMORANGKIR (SURGA CINTAKU)

Kristin Simorangkir

SURGA CINTAKU
"MARADA HUTAGALUNG"

Malam yang begitu Indah Ingin sekali
Aku lewati bersamanya
Rasa cinta yang kini mendalam ingin segera
Aku katakan
Dengarkanlah senandung hatiku ini rasa cinta yang ingin selalu
Aku ungkapkan

Hati ini tak bisa berdusta karena diriku terlalu sayang dia
Untuknya akan kuserahkan seluruh cinta ini
Tanpanya hidup akan terasa hampa
Anganku ingin dapat menjadi Kekasih hatinya jika ini sia-sia, hati ini akan terasa
galau, galau dan galau
Aku tidak akan lupa dengan semua janjimu
Lama aku suka padamu tapi aku akan berjuang
Untuk dapatkan cintamu
Namun, tolong jangan coba untuk
Gantungkan cintaku...!!!

by: Christin Simorangkir



ARTI SEBUAH KATA

Ku yakin...
Setiap orang di dunia pasti merasakan
Rasa cinta yang mendalam kepada seseorang

Namun hanya di dalam khayalan
Yang berkata cinta secara bijaksana
Namun aku tetap tak mengerti dengan
Kehendak Tuhan...

Ketika hati ini berbicara
Kalau cinta telah membawa
Tapi mulut ini selalu terkunci
Jika ingin mengungkapkan maksud hati

Apa arti sebuah kata
Kata sayang dan kata cinta
Namun hanya terucap di mulut saja

Lebih baik ku'genggam tanganku di angan
Dari padaku harus terluka
Oleh Tutur kata yang manis namun berbisa
Yang terucap dari mulut penuh dengan dusta

by: Christin Simorangkir

Puisi di atas adalah karya Christin Simorangkir (lihat Facebooknya di http://www.facebook.com/kristin.simorangkir), dan puisi tersebut sudah lama dibuatnya.