Showing posts with label BMH. Show all posts
Showing posts with label BMH. Show all posts

26 March 2026

Tata Bahasa Indonesia EYD: Persamaan dan Perbedaan Atau Perbandingan Kata-Kata antara Bila, Bilamana, Jika, Jikalau, Kalau, Andai, Andaikan, Seandainya

Pendahuluan
Dalam Tata Bahasa Indonesia sering kali kita membaca dan mendengar kata-kata Bila, Bilamana, Jika, Jikalau, Kalau, Andai, Andaikan, Seandainya, namun jika kata-kata tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris hanya disebut "If" saja, tak ada kata lain. Lalu kenapa begitu banyak kata-kata tersebut padahal artinya sama? Hal itu akan dijelaskan dalam artikel ini.

Kedelapan kata ini berfungsi sebagai kata penghubung kondisional dalam bahasa Indonesia. Secara umum mereka memperkenalkan syarat, kemungkinan, atau hipotesis. Perbedaan utama terletak pada tingkat formalitas, nuansa makna (realistis, kemungkinan, atau kontrafaktual), dan kegunaan dalam tulisan atau percakapan.

Sekilas tentang Kontrafaktual, lebih mengarah ke Pemikiran kontrafaktual (counterfactual thinking) adalah merupakan sebuah konsep dalam psikologi yang menggambarkan kecenderungan manusia untuk membayangkan kemungkinan alternatif terhadap peristiwa hidup yang telah terjadi yakni hal-hal yang bertentangan dengan kenyataan. Secara harfiah, counterfactual berarti “bertentangan dengan fakta”. Pemikiran semacam ini sering muncul dalam bentuk pertanyaan seperti "What if?" (“Bagaimana jika...?”) atau ungkapan “Seandainya saja...”, yang mencerminkan keinginan untuk membayangkan hasil berbeda dari situasi yang telah berlalu. Dengan kata lain, pemikiran kontrafaktual melibatkan bayangan atas peristiwa yang tidak mungkin terjadi pada masa kini karena bergantung pada kejadian masa lalu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Tabel Perbandingan Utama

Penjelasan Kata-Kata:
  • Bila: sering dipakai dalam konteks formal maupun semi-formal untuk menyatakan syarat yang mungkin terjadi. Cocok untuk kalimat kondisional yang bersifat faktual atau prosedural.
  • Bilamana: lebih jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari dan terasa sangat formal atau retoris. Sering muncul dalam tulisan hukum, akademik, atau sastra klasik.
  • Jika: adalah kata kondisional yang paling fleksibel dan umum. Dapat dipakai di tulisan resmi maupun percakapan, untuk menyatakan syarat nyata atau hipotesis.
  • Jikalau: mirip dengan jika tetapi memberi nuansa sedikit lebih tegas atau klasik. Sering dipilih untuk variasi gaya dalam tulisan formal atau sastra.
  • Kalau: bersifat santai dan umum dalam percakapan. Fungsinya sama dengan jika, tetapi lebih cocok untuk bahasa lisan dan komunikasi tidak resmi.
  • Andai: biasanya muncul dalam konteks puitis atau imajinatif untuk menyatakan kondisi yang tidak nyata atau sangat hipotetis. Memberi nuansa melankolis atau reflektif.
  • Andaikan: digunakan untuk mengajukan skenario hipotetis dengan nada netral hingga formal. Sering dipakai saat menjelaskan konsekuensi atau eksperimen pemikiran.
  • Seandainya: menekankan sifat kontrafaktual dan sering membawa muatan emosional seperti penyesalan atau harapan yang tak terpenuhi. Sering muncul dalam narasi atau ungkapan perasaan.
Contoh Kalimat Per Kata
  • Bila: Bila hujan turun, acara akan dipindah ke aula.
  • Bilamana: Bilamana persyaratan terpenuhi, keputusan akan diumumkan.
  • Jika: Jika kamu datang lebih awal, kita bisa berlatih bersama.
  • Jikalau: Jikalau terjadi gangguan, hubungi layanan pelanggan.
  • Kalau: Kalau mau, kita makan di luar saja.
  • Andai: Andai waktu bisa diputar kembali, aku akan berbeda.
  • Andaikan: Andaikan semua pihak setuju, proyek itu bisa dimulai bulan depan.
  • Seandainya: Seandainya aku tahu lebih dulu, aku takkan membiarkannya pergi.
Tips Memilih Kata Yang Tepat:
  • Gunakan kalau untuk percakapan santai.
  • Pilih jika atau bila untuk tulisan baku dan penjelasan logis.
  • Pakai bilamana atau jikalau bila ingin nuansa formal atau sastra.
  • Pilih andaikan, andai, atau seandainya saat menyampaikan hipotesis, imajinasi, atau penyesalan; andai lebih puitis, andaikan lebih netral, seandainya lebih emosional.
KESIMPULAN
Kedelapan kata tersebut memiliki fungsi dasar yang sama sebagai penghubung kondisional, tetapi berbeda dalam tingkat formalitas, nuansa, dan kegunaan kontekstual. Memilih kata yang tepat bergantung pada tujuan komunikasi—apakah formal, santai, puitis, atau kontrafaktual—serta pada gaya penulisan yang diinginkan.

Persamaan Umum
Fungsi dasar adalah Semua kata ini memperkenalkan klausa syarat atau hipotesis dalam bahasa Indonesia. Mereka termasuk konjungsi bersyarat yang menghubungkan klausa utama dan anak.

Tabel Perbandingan Singkat

Penjelasan dan Nuansa
  • Bila / Jika / Jikalau: Ketiganya sering saling menggantikan dalam konteks syarat nyata; jika paling fleksibel, bila sedikit lebih formal, jikalau memberi nuansa klasik. Gunakan untuk instruksi, aturan, dan tulisan resmi.
  • Bilamana: Jarang dipakai sehari‑hari; terasa kaku dan cocok untuk konteks hukum atau retoris.
  • Kalau: Bentuk populer dalam percakapan; lebih santai dan ringkas. Pilih kalau untuk chat, pesan, dan dialog.
  • Andai / Andaikan / Seandainya: Ketiganya menandai hipotesis; andai puitis, andaikan netral dan sering dipakai untuk eksperimen pemikiran, seandainya membawa muatan emosional (penyesalan/harapan). Gunakan untuk menyampaikan imajinasi atau penyesalan.
Contoh Kalimat (singkat):
  • Bila hujan, acara dipindah.
  • Bilamana persyaratan terpenuhi, keputusan diumumkan.
  • Jika kamu datang, kita mulai.
  • Jikalau terjadi gangguan, hubungi admin.
  • Kalau mau, kita makan di luar.
  • Andai waktu kembali, aku berbeda.
  • Andaikan semua setuju, proyek dimulai.
  • Seandainya aku tahu, aku takkan pergi.
  • Tips Praktis Memilih Kata.
  • Formal/teknis: jika, bila, bilamana, jikalau.
  • Percakapan sehari‑hari: kalau.
  • Hipotesis/emosi/puisi: andai, andaikan, seandainya.
  • Memahami nuansa ini membantu menyesuaikan gaya tulisan atau bicara sesuai audiens dan tujuan komunikasi.
Sumber Utama dan Peran dalam Artikel
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) — definisi kata, status baku/arkais, contoh penggunaan; sumber otoritatif untuk makna leksikal.
  • Artikel tentang Konjungsi Syarat (Hotelier) — penjelasan jenis konjungsi kondisional, fungsi, dan contoh kalimat; berguna untuk kerangka tata bahasa.
  • Tulisan populer tentang kata penghubung bersyarat (Budgetnesia) — ringkasan praktis penggunaan kata seperti jika, bila, andai, kalau; berguna untuk contoh sehari‑hari dan gaya.
  • Halaman resmi KBBI Daring (KBBI).
  • Konjungsi Intrakalimat (IDN Times).

02 April 2019

B. Marada Hutagalung Dalam Berita Kabupaten Sintang Tahun 2015

Logo Kabupaten Sintang


Kabupaten Sintang adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Kalimantan Barat.

B. Marada Hutagalung adalah nama penulis blog ini yang telah masuk berita di situs Pemerintah Kabupaten Sintang (sintang.go.id), situs berita Sintang Post (sintangpost.com) dan situs berita Lintas Kapuas (lintaskapuas.com).

Beritanya sudah lama dan baru diketahui di tahun 2019 ini, dan itu tidak sengaja ditemukan oleh penulis blog ini. Meski beritanya bukan khusus untuk memberitakan nama penulis blog ini namun penulis blog sudah merasa senang akan hal itu.

Beritanya memang khusus untuk menginformasikan tentang Lomba Paduan Suara Mars Korpri, yang berketepatan tim panitia memilih lagu mars korpri yang diaransemen oleh B. Marada Hutagalung.

Nama penulis blog ada tertulis pada alinea terakhir, untuk selanjutnya bisa kita lihat isi situsnya di bawah ini.

1. http://www.sintang.go.id/news/index/1026

2. https://sintangpost.com/read/1134/pemkab-gelar-lomba-paduan-suara-mars-korpri.html

3. http://www.lintaskapuas.com/tim-paduan-suara-sekda-sabet-juara-mars-korpri

Terima kasih.

06 January 2017

Korpri Story: Saya Bangga Menjadi ASN Anggota Korpri


APARATUR Sipil Negara (ASN) boleh jadi dibenci orang namun sekaligus juga dirindukan. Dibenci karena penghasilannya tidak seberapa dibanding penghasilan perusahaan-perusahaan besar tertentu, namun dirindukan karena setelah pensiun tetap digaji meski sedikit. Itulah asumsi beberapa orang baik dari anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) maupun bukan anggota KORPRI.

Bila dilihat dari kacamata anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maka asumsi di atas bisa dibenarkan. Sebab APBD dan PAD tadi memengaruhi penghasilan tambahan ASN.

APBD di setiap daerah tidak sama. Oleh karena itu anggaran untuk belanja pegawai pun harus disesuaikan termasuk untuk penghasilan tambahan pegawai seperti uang lauk pauk, uang kesejahteraan, insentif, tunjangan tambahan penghasilan, insentif, dan lainnya.

Apabila dibandingkan lagi dengan APBD DKI Jakarta dan keuangan Lembaga Pemerintahan Pusat tentu jauh berbeda dengan APBD di daerah-daerah, termasuk anggaran untuk belanja pegawai dan penghasilan tambahannya.

Sebenarnya gaji ASN berdasarkan pangkat, masa kerjanya sama semua, semisal ASN Fungsional Umum, golongan III/a dengan masa kerja 5 tahun, gajinya sama baik di daerah maupun di pusat dan itu sudah ada aturannya. Namun di penghasilan tambahan ASN barulah berbeda di setiap daerah, apalagi bila dibandingkan dengan lembaga pemerintahan pusat.

Itu sebabnya ASN berpangkat rendah di DKI Jakarta bisa lebih besar/tinggi penghasilannya dari pada ASN yang berpangkat tinggi di beberapa daerah yang rendah PAD-nya.

Lalu apakah semua ASN bangga menjadi ASN? Tergantung keadaan, bisa bangga atau juga tidak. Atau kebanggaannya memiliki tempo, yakni kadang bangga namun kadang tidak, lalu kembali bangga. Ada beberapa orang bangga menjadi ASN karena:
- bisa menjadi abdi negara;
- bisa melayani negara dan masyarakat dengan ikhlas;
- memiliki kesempatan untuk berkarya, berkreasi, dan berinovasi;
- memiliki kesempatan untuk meningkatkan SDM demi kinerja yang baik;
- mendapat wawasan/pengetahuan baru;
- memiliki kesempatan untuk menjalankan tugas negara;
- dll.

Secara teori para ASN akan lebih banyak menyampaikan rasa bangganya dari sisi positif. Namun pada kenyataannya tidak semua demikian. Mereka yang tidak memiliki jiwa pelayanan yang ikhlas akan lebih cenderung jenuh mengerjakan tugasnya bila tidak ada materi pendukung seperti uang.

Itu merupakan hal yang buruk, karena apabila para ASN tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak memiliki jiwa pelayanan, maka akan berdampak buruk bagi masyarakat dan negara (sia-sia digaji negara tapi kinerjanya buruk).

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya pernah merasa jenuh, namun bukan karena masalah penghasilan atau juga bukan karena posisi jabatan. Saya jenuh karena mengerjakan tugas yang tidak saya pahami, namun harus diselesaikan secepat mungkin, sehingga hasilnya tidak maksimal dan tugas rutin pun menjadi terbelengkalai.

Jika jauh-jauh hari tugas yang tidak saya pahami itu diberikan secepatnya kepada saya, maka kemungkinan besar saya akan punya waktu untuk mempelajarinya dan hasilnya bisa maksimal. Kejenuhan saya tidak hanya sampai di situ saja. Terkadang saya jenuh dengan rekan-rekan sekantor saya yang tidak bisa diajak bekerjasama dan berkoordinasi karena ada beberapa tugas saya yang berhubungan dengan pekerjaan mereka.

Meski demikian, saya bangga menjadi ASN anggota Korpri karena pemerintah memberi kesempatan bagi saya untuk berkarya, berkreasi, berinovasi demi negara. Karya saya belum tentu sebaik karya orang lain, namun saya bangga karena saya mendapat kesempatan untuk berkarya, berkreasi dan berinovasi untuk negara.

Sekarang ini banyak ASN berpendidikan tinggi, pintar dan ahli, namun mereka justru tidak menggunakannya untuk melayani negara dan masyarakat, melainkan digunakan di saat ia butuh, bukan di saat negara butuh.

Kebanggaan saya tidak hanya itu saja, yakni saya bangga karena pemerintah memberikan kesempatan bagi saya untuk menambah wawasan/pengetahuan baru. Namun kebanggaan saya yang utama adalah karena saya terpilih menjadi abdi negara untuk siap melayani negara dan masyarakat.

Saya berharap supaya para ASN bangga menjadi ASN, karena terpilih menjadi abdi negara untuk siap melayani negara dan masyarakat, karena ASN adalah Pelayan Negara dan Masyarakat.

Sekian dan terima kasih.

Sumber: goo.gl/67DA5G

Oleh: B. Marada Hutagalung
Editor: @Korpriofficial

07 May 2015

Foto Saya Menjadi Bahan Artikel Blog nababan.wordpress.com



Sesuatu hal yang tak saya duga, foto kami berdua, B. Marada Hutagalung dan Fendiv Lumbantobing menjadi bahan artikel di blog nababan.wordpress.com dengan judul "Nikmatnya Mandi Air Soda di Desa Parbubu Tarutung" (tanggal artikel 26 Juli 2010).

Foto itu sudah ada sebelum dibuat ke blog tersebut, mungkin admin situs tersebut tidak sempat menggunakan foto lain sehingga foto kami tersebut yang digunakan sebagai bahan artikel blognya.

Foto dalam blog tersebut ukuran pixel-nya dan kapasitasnya kecil, maka kemungkinan besar diambil dari via google, dan yang mungkin muncul pertama didapatnya ukuran kecil sehingga foto yang lainnya diabaikan.

Walau demikian, saya sangat berterima kasih kepada pemilik atau admin blog tersebut, dan semoga sukses selalu. Amin.

09 April 2014

Belajar Fotografi - Jadilah Bintang



Belajar Fotografi adalah sebuah cara bagaimana untuk mengabadikan sesuatu objek/momen tertentu agar tidak hanya sekedar gambar saja namun memiliki makna/arti yang banyak.

Kita sering kali mengabadikan sebuah objek atau momen tertentu hanya sekedar gambar saja, atau sebagai kenangan atau gaya saja. Malah tidak memikirkan apa sebenarnya makna dari hasil jepretan kamera kita tersebut.

Jika kita ingin memiliki foto yang bermakna tidaklah harus menggunakan kamera yang super canggih. Cukup dengan menggunakan kamera seluler sudah bisa belajar menjadi fotografer pemula. Bagaimana pula dengan kita yang menggunakan kamera seluler hanya berkemampuna VGA, yang hasilnya kelihatan tidak bagus? Tidak perlu berkecil hati, asal bisa memahami sudut pencahayaan maka hasilnya bisa bagus walau tak maksimal, namun memiliki arti tersendiri.

Cobalah mengabadikan sebuah objek/momen tertentu dengan melihat/memahami sisi-sisi lainnya, seperti latar belakang, sudut kiri/kanan dan posisi kita di saat mengabadikan sebuah gambar, serta apa maksud dan tujuan kita mengabadikan gambar tersebut, baik direncanakan mau pun tidak direncanakan.

Perlu kita ketahui bahwa fotografer berbeda dengan foto editor, yakni fotografer adalah orang yang mengabadikan objek/momen tertentu dengan kamera, sedangkan foto editor adalah orang yang memodifikasi foto yang sudah diabadikan; fotografer bisa saja menjadi foto editor atau bisa saja tidak, demikian sebaliknya foto editor.

Di bawah ini ada beberapa contoh hasil kamera yang menggunakan kamera seluler merk Nokia X2-00 dengan kamera berkapasitas 5 Megapiksel, namun di saat saya mengabadikannya saya mengatur ukurannya menjadi 3,2 Megapiksel. Namun hasil fotonya saya edit ulang, dibuat dalam format PNG dan aslinya saya simpan.





Semua foto di atas bertema "Jadilah Bintang", namun memiliki arti tersendiri dan masing-masing berbeda arti. Bagus atau tidaknya gambar di atas adalah penilaian dari saudara/i.



Terima kasih.

12 March 2014

Saya Cinta Musik

B.M.H.

Saya cinta musik tapi bukan berarti saya bisa menguasai semua musik dan jenisnya, setidaknya minimal tahu tentang musik.

Siapa saya? Saya adalah B. Marada Hutagalung (B.M.H) asli orang Tarutung (mulai lahir, sekolah/kuliah sampai kerja semuanya di Tarutung), tentu bila saya terkenal tentu saudara/i mengenal saya, tapi saya tidak merasa terkenal dan mungkin saudara/i belum mengenal saya.

Kata orang saya itu musisi terkenal. Masa? Dan sudah banyak lagu-lagu saya yang terkenal, tapi itu kata orang. Menurut orang bahwa salah satu lagu saya yang terkenal adalah...! Apa ya? Menurutku lagu-lagu yang saya tulis tidak terkenal, sebab satu pun lagu saya tak ada yang berlabel resmi, hanya label B.M.H, itu pun atas inisaitif saya. Walau begitu semua lagu yang saya tulis, aransemen saya curahkan di blog saya di http://maradagv.blogspot.com.

Orang berpikir bahwa saya adalah penulis lagu yang terkenal dan kaya tapi tidaklah demikian. Andai terkenal saya akan hidup berkelimpahan, namun saya sudah sangat bersyukur dengan apa yang ada pada saya. Kata orang saya ganteng. Siapa orangnya? Saya rasa saya tidak ganteng, tapi lumyayanlah. Ah, juga tidak lumayan.

Di samping saya cinta musik, saya juga suka sastra, itulah sebabnya saya sering menulis puisi dan saya curahkan di blog puisi saya yakni di http://mgv107.blogspot.com, tapi saya juga suka menulis hal-hal lain, bisa dilihat di http://maradahtgalung.blogspot.com. Tapi saya juga suka komputer dan internet.

Jujur, meski pun saya cinta musik, sastra, dan komputer tapi saya belum bisa dikatakan mahir di bidang hal tersebut. Dan semuanya saya pelajari secara otodidak atau belajar sendiri/belajar dari orang yang berbengalaman, tidak kursus (hanya kursus komputer/bahasa Inggris tapi tidak tamat).

Mengenai pekerjaan, sebenarnya saya suka bekerja sesuai dengan hobbi/bakat/talenta saya, tapi Tuhan malah memberikan saya bekerja menjadi PNS di salah satu instansi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.

Saya punya istri namanya Kartini Elisabet Samosir (Pakpahan), saya tidak tahu pendapat orang tapi menurut saya bahwa istri saya cantik dan baik (ehem-ehem, kurasa telinganya naik). Dia orang Rantauprapat, Kab. Labuhanbatu. Banyak orang mengira kalau dia saya dapat dari teman satu kuliah saya, tapi ternyata tidak. Dia lulusan FKIP Universitas HKBP Nommensen (jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan sedangkan saya lulusan dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Tarutung (jurusan Teologia). Jadi saya memiliki gelar S.Th dan juga mendapatkan gelar Pendeta (Pdt.) tapi sangat jarang saya pakai gelar tersebut, hanya digunakan pada waktu tertentu saja, itu pun kalau terpaksa. Meski pun saya lulusan dari Perguruan Agama Kristen, tapi saya tidak pernah membahas tentang agama saya kepada saudara/i yang beragama lain dan juga saya tidak mau berdebat kepada saudara/i yang berbeda agama dengan saya mengingat bahwa saya adalah orang Indonesia yang berazaskan Pancasila dan UUD RI Tahun 1945.

Siapa saya? Bisa dilihat sendiri secara langsung. Tapi kurasa tak ada orang yang bertanya/berpendapat tentang saya. Mungkin saudara/i berpikir bahwa saya orang aneh atau gila karena membuat tulisan.

Mohon maaf atas tulisan saya ini, hanya ingin menulis saja dari pada kosong blog saya.

Salam Sejahtera dan Salam Musik.